aku hanya sebatas manusia
pada saatnya beban itu tak sanggup aku pikul sendiri, jiwaku rapuh dan lemah
Disaat semuanya buntu....
ingin sekali kubaringkan raga ini dan kusakiti jiwa ini sendiri, tapi nuraniku tak mengizinkannya.
sebaliknya Pagiku membuat jiwa dan ragaku kembali
Aku selalu takut menghadapi hari esok karena hari ini telah membuatku takut
Mataku terpejam tapi hatiku berkelana
Apa yang aku lakukan selalu bukan yang aku inginkan
hatiku selalu berbisik dan berontak
tapi aku tak bisa menolak
Aku selalu menghitung sesuatu itu dengan logika dan akal,
pada saat akal itu tak sanggup menjawab aku seperti kehilangan arah
Yaa Rabb...
Jangan tinggalkan jiwaku dengan kekosongan,
jangan biarkan akal ini menjadikannya Tuhan sekutu bagimu
Jangan hanya Kau temani diriku saat sholat dan doaku
dekaplah aku ...
temani aku....
setiap detik dan nafasku
Aku takut .....
Ya Rabb....
Aku takut...
Posted at 08:11 pm by @rez
Permalink

Ketika suatu alat ukur dikalibrasi dengan menggunakan suatu alat standar yang lebih tinggi tingkat pembacaannya, maka akan didapat ketidakpastian. apakah anda yakin alat standar ini menunjukan pembacaan mutlak?
Rupanya tidak!, karena ada alat standar yang lebih tinggi pembacaannya daripada alat standar tersebut dengan ketidakpastian yang lebih kecil.
Apakah alat standar itu tau bahwa dirinya lebih presisi?
tidak juga! karena yang membuat standarisasi adalah manusia, yang membuat perhitungan adalah manusia dan yang membuat kesimpulan juga adalah manusia.
Ada sesuatu yang tak bisa kita fahami dengan akal
Ada juga sesuatu yang tak bisa kita mengerti dengan hati
Ada juga sesuatu yang tak bisa tersentuh dengan rasa
Selagi semuanya masih dalam frame dan pemikiran manusia semua tidak akan pernah mutlak dan presisi. hanya kadar rentang ukur yang membedakan kearah presisi itupun masih yang membuat standar adalah manusia.
Apa yang menjadi ukuran kekuasaan kita akan memahami, mengerti dan merasakan keberadaan sesuatu.......
Posted at 04:47 pm by @rez
Permalink